Kode AdSense Anda

Bercermin Kepada Zaid bin Tsabit RA

Betapa besar dan agungnya posisi generasi muda dalam kaca mata Islam. Kalau kita amati berbagai peristiwa yang terjadi melalui tangan dan perjuangan para pemuda. Ini bukanlah sesuatu yang kebetulan, tetapi sunnah yang senantiasa berulang.

Sekarang, mari kita bersama-sama merujuk pada sejarah Islam! Pada saat kali pertama wahyu diturunkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Kepada siapakah beliau melancarkan dan menyampaikan risalahnya? Siapakah orang-orang yang telah mengemban konsekuensi dan tugas-tugas berat agama ini? Siapakah orang-orang yang mendapatkan amanah mengemban risalah Islam ini? Siapakah orang-orang yang dipercaya melakukan perubahan sistem hidup secara menyeluruh di Mekkah dan bahkan perubahan terhadap sistem hidup di seluruh muka bumi yang bukan hanya pada masa Rasulullah saja, namun hingga hari kiamat kelak? Siapakah orang-orang yang terlebih dulu dan terlebih dulu (untuk melakukan kebaikan)? Siapakah generasi paling baik dan mulia yang pernah hidup di muka bumi ini?

Mereka adalah orang-orang seperti yang digambarkan baginda Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwasanya Nabi Muhammad bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di masaku, lalu orang-orang yang setelah mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Siapakah orang-orang yang akan memerangi para durjana dan kaum thagut di Mekkah dan semenanjung Arabia? Yang kemudian menembus benteng kokoh dan tembok raksasa milik bangsa Romawi dan Persia? Siapakah mereka menggon- cangkan serta memporak-porandakan singgasana Raja Kisra dan Qaishar?

Dan juga, siapakah mereka yang akan berenang melawan derasnya ombak lautan untuk menghadapi para durjana dan kaum musyrik? Wahai generasi muda, siapakah mereka itu? Kembalilah pelajari buku-buku sejarah! Bacalah buku-buku biografi dan telusurilah kisah hidup keteladanan para pahlawan seperti mereka ini:

Pada Artikel ini, kami matilah kita ambil pelajaran yang berharga dari salah satu sahabat Rasulullah SAW. Beliau adalah Zaid bin Tsabit RA.

Cita-cita Zaid bin Tsabit RA

Tahukah Anda, apa cita-cita dan mimpi seorang anak kecil nan agung yang baru berusia tiga belas tahun ini? Padahal taraf usianya belum sampai usia mukallaf. Badannya kecil dan postur tubuhnya kurus kerempeng?

Meski usianya masih relatif sangat muda dan badannya juga kecil, ia sangat sibuk mengurusi umatnya. Ketika anak kecil ini mendengar kabar bahwa pasukan Islam bersiap-siap untuk berangkat menuju lembah Badar berperang melawan kaum musyrikin, maka dengan serta merta rasa peduli dan kecintaan di dalam hatinya—yang sangat kecil, namun nilainya sangat besar—terhadap agama ini tergerak untuk ikut serta, la membawa pedangnya, yang lebih panjang dari tubuhnya! Dan ia pun berangkat untuk bergabung bersama pasukan kaum
muslimin.

Dengan antusias dan penuh kesungguhan, anak kecil—yang belum mukallaf ini— berangkat ke medan jihad. Akal pikirannya telah memahami dan mengetahui betul konsep jihad di jalan Allah, memerangi musuh, menolong agama Allah. Di samping itu, ia juga siap menanggung penderitaan, luka, dan kesulitan guna meninggikan martabat dan derajat umat ini, hingga Islam berjaya dan menjadi pemimpin bagi alam semesta. Namun betapa sedihnya nasib anak kecil yang sangat antusias dan berambisi untuk ikut serta dalam pasukan Islam ini. Ketika ia bergerak menuju barisan pasukan kaum muslimin, dirinya sangat kaget menerima kenyataan yang sangat pahit. Ketika Rasulullah melihat usianya masih sangat muda dan postur tubuhnya sangat kecil, karena khawatir akan celaka di medan pertempuran nanti, beliau menolak keikutsertaannya dalam skuad pasukan kaum muslimin. Jelas, ini merupakan tragedi yang sangat pahit dan nyata bagi seorang sosok Zaid bin Tsabit . Akhirnya, ia pun kembali menjumpai ibundanya Nawwar binti Malik RA dalam keadaan menangis pilu karena kesedihan yang menderanya.

Mari kita berhenti sejenak untuk merenungi peristiwa ini! Bahwa turut serta bersama rombongan pasukan kaum muslimin merupakan cita-cita dan ambisi besar seorang Zaid bin Tsabit dan anak-anak serta para pemuda Islam di zaman Rasulullah SAW. Semoga Allah meridhoi mereka semua.

Peran Seorang Ibu Dibalik Kehebatan Seorang Zaid bin Tsabit RA

Ia kembali menjumpai ibundanya dalam keadaan menangis sedih sambil berkata, “Rasulullah melarang saya ikut berjihad.”

Akan tetapi, sang ibu yang sangat arif, bijak, mengetahui dan memahami betul hakikat agamanya, dan paham akan potensi dan kemampuan anaknya, berkata, “Wahai anakku! Janganlah bersedih! Kamu masih bisa berkhidmat kepada Islam dengan cara yang lain. Jika tidak lewat berjihad dengan pedang, masih bisa berjihad dengan lisan dan pena.

Ibu yang bijak dan kader dakwah Nawwar binti Malik menyadarkan anaknya—sekaligus kita semua—bahwa ruang lingkup berjuang di jalan Allah sangat luas, beragam, dan tidak sama. Orang yang tak mampu berbuat di satu medan, ia kemampuan serta potensi setiap individu sangat berbeda dan masih bisa berkarya pada lini yang lain. Setiap orang akan dimudahkan untuk mencapai tujuannya.

Sang ibu yang cerdas itu berkata kepada anaknya yang memiliki semangat membara, “Kamu harus tekun belajar membaca dan menulis sebuah kegiatan yang jarang dilakukan masa itu—serta menghafal surat-surat Al-Qur’an dengan baik Setelah itu, kita berangkat menghadap Rasulullah untuk mengetahui, bagaimana cara menggunakan potensi dan kemampuan yang kita miliki untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin!”

Oh, betapa indahnya ide dan argumen ini Kesungguhan yang jujur dan pandangan yang jauh ke depan.

Akhirnya, mereka pun berangkat menjumpai Rasulullah bersama beberapa orang dari kabilah mereka. Mereka semua sangat berharap agar Rasulullah menerima dan menugaskan Zaid bin Tsabit RA untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum
muslimin.

Mereka berkata kepada Rasulullah, “Wahai Nabi Allah, anak kami ini Zaid bin Tsabit RA telah menghafal tujuh belas surat Al-Qur’an. Ia membacanya dengan fasih dan benar sebagaimana diturunkan kepadamu. Di samping itu, ia juga sangat mahir menulis dan membaca. Dengan itu semua, ia ingin dekat denganmu dan selalu mendampingimu. Jika baginda bersedia, silakan mendengarkan bacaannya”.

Rasulullah bersabda kepada Zaid bin Tsabit “Wahai Zaid, pelajarilah tata cara penulisan bahasa Yahudi untukku. Karena aku tidak dapat mempercayai mereka dari apa yang aku katakan.”

Lalu Rasulullah mendengarkan bacaan Zaid bin Tsabit RA hingga beliau mengetahui kemahiran dan kemampuan Zaid dalam menghafal. Beliau sangat menghargai nilai kemahiran yang ditekuni Zaid di samping menghafal, ia juga membacadan menulis. Rasulullah tidak meremehkan usianya yangmasih muda atau menyepelekan kondisinya. Namun beliau justru meminta Zaid-yang pada masa kita sekarang ini, permintaan seperti ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang telah berhasil melewati sidang dan diskusi hangat dan panjang tentang ilmu pengetahuan, keahlian, studi, dan penelitian khusus.

Rasulullah menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa asing yang sangat penting pada waktu itu dan untuk tujuan serta target politik yang tak kalah penting, yang tentunya akan memberikan pengaruh besar terhadap jalinan hubungan diplomasi dan perang antara umat Islam dan kaum Yahudi. Padahal usia Zaid bin Tsabit kala itu baru tiga belas tahun.

Pilihan Rasulullah sangat tepat. Zaid in Tsabit
sangat antusias mempelajari bahasa Ibrani hingga ia menguasainya dengan baik dalam 15 hari. la pun sanggup berbicara dan menulisnya laksana seorang Ibrani. Kemudian Rasulullah juga memintanya untuk mempelajari bahasa Suryaniyah; yakni salah satu bahasa yang cukup populer pada waktu itu. Zaid pun mempelajarinya dalam 17 hari, hingga ia menjadi juru bicara (penerjemah) daulah Islamiyah. Ia juga menjadi orang yang selalu ikut serta dalam berbagai perundingan, utusan, atau surat menyurat antara kabilah-kabilah asing dengan daulah Islamiyah.

Semua ini terjadi pada usianya yang baru tiga belas tahun! Apakah Anda perhatikan bagaimana potensi dan kemampuan para pemuda?!

Rasulullah SAW merasa sangat puas dan tenang dengan kemahiran dan ketekunan seorang Zaid bin Tsabit RA. beliau memberikan tugas (amanah) yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar surat menyurat dan hubungan diplomatik. Rasulullah mempercayainya untuk menuliskan Al-Qur’an. Setiap kali ayat-ayat Al-Qur’an turun kepada Rasulullah beliau akan mencari Zaid dan bersabda kepadanya, “Wahai Zaid, tulislah!” Maka Zaid pun akan menulisnya, la pun menjadi salah seorang penulis wahyu yang sangat masyhur.

Hari-hari pun berlalu, hingga akhirnya Rasulullah wafat. Di kala itu, kaum muslimin merasa khawatir menghadapi situasi yang sangat genting jika saja mereka kehilangan satu ayat atau beberapa ayat dari Al-Qur’an Al-Karim. Sebab, di masa Rasulullah Al-Qur’an belum dikumpulkan dalam bentuk satu kitab. Dikhawatirkan, pada generasi berikutnya akan kehilangan beberapa bagian dari Al-Qur’an atau paling tidak akan kehilangan susunannya. Pada saat genting seperti ini, Umar bin Khatthab RA memberikan usulan kepada Abu Bakar Ash- Shiddiq RA sang khalifah pertama untuk mengumpulkan Al-Qur’an di dalam satu kitab.

Begitulah kisahnya. Akhirnya Zaid bin Tsabit RA dipercayai untuk melakukan tugas yang sangat berat ini.


Setelah melalui diskusi dan dialog yang cukup memakan waktu, akhirnya Abu Bakar man menerima ide tersebut. Akan tetapi, timbul lagi masalah baru yang juga sangat berat, yakni kepada siapakah tugas yang mulia dan berat ini dipikulkan? Dalam hal ini, Abu Bakar tidak menemukan orang yang lebih baik daripada Zaid bin Tsabit RA untuk melakukan tugas yang sangat penting dan sulit ini. Di samping Zaid sangat mahir membaca dan menulis, ia juga termasuk salah seorang penulis wahyu di masa Rasulullah. Ia mengetahui dengan persis seluk beluk Al-Qur’an, kapan diturunkan, bagaimana turunnya, apa sebab turunnya, urutan turunnya, hingga tata cara menggabungkannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Padahal ketika ia mengumpulkan Al-Qur’an di
dalam satu kitab, usianya baru 21 atau 22 tahun
saja. Atau kalau ia hidup di zaman kita sekarang ini, ia belum memperoleh gelar sarjana dari
fakultasnya. Namun demikian, di pundaknyalah
diletakkan sebuah tugas penting yang tidak akan
diletakkan di pundak para professor dan guru besar terkemuka

Di samping itu, masih banyak jumlah para shahabat yang lebih tua dan lebih dahulu masuk Islam dibandingkan Zaid bin Tsabit . Akan tetapi berkat kemahiran, keahlian, dan kemampuannya yang sangat mumpuni itu, meskipun ia masih sangat muda belia, dialah yang dipilih untuk melakukan tugas mulia tersebut.

Zaid bin Tsabit RA berkata, “Demi Allah! Kalau saja mereka menyuruhku memindahkan gunung dari tempatnya. niscaya hal itu akan lebih mudah dan lebih ringan bagi saya daripada yang mereka perintahkan kepada saya untuk mengumpulkan Al-Qur’an!”

Namun di atas semua itu, sang pemuda belia Zaid bin Tsabit RA berhasil melakukan tugas berat nan mulia yang semestinya memerlukan sekelompok ulama terkemuka, Sungguh, betapa besar potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh para pemuda.

Sumber : Menjadi Pemuda Peka Zaman -DR. Raghib As-Sirjani

Read moreBercermin Kepada Zaid bin Tsabit RA