Pengalaman Mendaki Gunung Penanggungan

Pengalaman mendaki gunung penanggungan – Di setiap akhir tahun, pihak pondok mengadakan acara rihlah atau rekreasi untuk para ustadz dan para santri. Bagi para santri wajib untuk mengikuti acara tersebut sebelum silaturrahmi ke rumah masing-masing  (berlibur).

Sebelum memutusan lokasi yang hendak kami kunjungi, biasanya para ustadz meminta pendapat beberapa santri tentang lokasi yang cocok untuk dijadikan tempat rihlah nantinya.

Para ustadz juga sempat membahas topik ini di rapat mingguan mereka. Hingga disepakati dan diputuskanlah kegiatan rihlah kami tahun ini, yaitu mendaki Gunung Penanggungan.

Persiapan Fisik dan Mental

Daftar periksa
http://littlesproutspeech.com

Jauh hari sebelum kegiatan dilaksanakan, telah beredar pembagian kelompok serta list barang-barang perorangan maupun perkelompok. Tidak cukup dengan itu, kami juga diberi selembar kertas. Kertas itu berisi tentang checklist olahraga persiapan mendaki Gunung Penanggungan. Salahsatu dari checklist itu adalah lari naik turun tangga.

Makin hari makin dekatlah kami dengan hari keberangkatan. Berbagai checklist barang-barang pribadi dan kelompok mulai penuh dengan centang. Beberapa santri bahkan ada yang  mempersiapkan dengan sangat baik, membeli career 40-60 liter, yang harganya juga lumayan.

Keberangkatan

https://id.pinterest.com/pin/552394710518800748/?lp=true

Di pagi hari, kami berangkat ke lokasi dengan menyewa truk penumpang sewaan. Perjalanan panjang membuat kami mengantuk dan tenggelam di tengah perjalanan.

Tiba-tiba truck berhenti. Membuat kami heran dan membuka mata. Ternyata waktu sholat tiba. Kami sholat di masjid tepi jalan. Setelah sholat, kami makan siang. Perjalanan dilanjutkan.

Disambut

Hutan hujan
pexels.com

Kami telah sampai di kaki Gunung Penanggungan. Perjalanan yang sangat lama membuat kami lemas. Satu persatu dari kami keluar truk dengan lunglai. Ternyata diluar telah ada yang menyambut kami. Tetesan air dari langit yang sangat banyak, atau biasanya kami menyebutnya deras.

Mau tidak mau, kami harus sergap untuk mengenakan jas hujan kami, atau hujan akan membasahi pakaian dan barang-barang kami.

Adzan dikumandangkan, para santri bergegas untuk mencari tempat terbaik, beberapa menyiapkan alas, dan yang lain mengamankan barang-barang. Sholat pun didirikan.

Pendakian Dimulai

Mendaki gunung
pexels.com

Peluit ditiup, semenit kemudian berkumpul semua santri dengan keadaan berbaris rapi. Komandan perjalanan memberikan arahan serta nasehat sebelum memulai pendakian. Pendakian dimulai.

Tentu banyak keluhan yang terucap di lisan maupun tidak. Pendakian gunung yang dimulai pada malam hari, Hujan deras pula. Hanya orang-orang hebat yang bisa mensyukuri nikmat hujan ini.

Salah jalan

Cara yang salah
oof.net.au

Perjalanan satu baris menjadikan barisan itu rawan terputus di bagian tengahnya. Cahaya-cahaya senter menerangi bagian kecil dari Gunung Penanggungan saat itu. Hingga ada perintah untuk menggunakan beberapa senter saja, hemat.

Di setiap 15-30 menit, kami istirahat, buang air kecil, minum dan lain-lain. Hal itu dilakukan karena tidak  semua santri berkekuatan sama. Ada santri SMA dan ada santri SMP.

Perjalanan berlanjut. Para siswa kembali dalam barisan. Cobalah bersabar dan tidak maju. Sudah lama sejak kami berjalan.

“BUNTU…! Ada ladang… PUTAR BALIK” Kata seseorang dari bagian depan barisan.

Sempat membuat kami kaget. Ternyata rute perjalanan belum dibuat. Bagaimana kita bisa salah jalan, padahal hal itu harusnya sudah tuntas dipermasalahkan jauh hari sebelum pendakian.

Kami putar balik dan melanjutkan perjalanan. Hingga hal yang sama terulang. Terulang sampai 3 kali. Membuat kami geleng-geleng meletakkan tangan di pinggang sambil putar balik.

Ternyata Puncak Punya Bayangan

Pengalaman mendaki gunung penanggungan
candi.web.id

Akhirnya perjalanan kami terbayar dengan terlihatnya puncak dari tempat berdiri kami saat itu. Semangat bukan main kami mendaki jalan curam tersebut. Memang barisan sudah tidak tertata lagi saat itu. Membuat para santri ingin saling mendahului.

Angin bertiup sangat kencang. Menumbangkan siapapun yang berdiri tegak saat itu. Dengan langkah-langkah panjang dan penuh kehati-hatian, kulalui track berbatu Gunung Penanggungan.

Seorang teman mendahuluiku dengan lari dan langkah panjangnya, membuat setiap orang yang melihatnya greget ingin menyuruhnya untuk berhati-hati.

“AWAS LONGSOR…!” teriak seorang santri yang mendahuluiku tadi.

Batu seukuran kepala manusia itu menggelinding cepat seakan ingin sekali menghantam wajahku. Kujatuhkan diri dan kulindungi kepala ini. Gak kena, Alhamdulillah. Ternyata bukan longsor, cuma batu yang menggelinding tertendang.

Perasaanku dari tadi kami melihat puncak yang sudah dekat. Tapi, kenapa perjalanan ini nggak kelar-kelar. Ternyata, teman belakangku juga mengatakan hal yang sama. Puncak tak sampai-sampai menjadi topik pembicaraan saat itu. Lama kami berjalan, Waktu menunjukkan pukul 12:00 malam. Belum juga kita sampai puncak.

Akhirnya, puncak Penanggungan telah kupijak dan kuberdiri tegak di atasnya.

“Lho ini masih puncak bayangan” Ucap seorang ustadz yang sedang ngobrol dengan beberapa santri disana.

Kaget bukan main. Belum pernah kudengar gunung punya bayangan. Kembali kududuk nggak jadi berdiri tegak. Agak merasa bodoh, melamun, senyum sendiri. Hee..

Tenda Gak Guna

Pengalaman mendaki gunung penanggungan
pexels.com

Kulanjutkan perjalanan hingga kutemui kumpulkan orang yang terbaring berbantal tas.

“Langsung istirahat ! udah tengah malem. Lanjut besok setelah sholat shubuh” Ucap orang itu padaku.

Ternyata ia adalah santri SMA. Teman-temanku sudah banyak yang menutupkan matanya. Kuyakin mereka tidak bisa tidur di suhu sedingin ini. Apalagi angin bertiup sangat kencang. Tidur aja lah..

Ketua kelompokku menghampiriku. Ternyata dia baru sampai jalan hampir puncak ini.

“Lah kok tidur? Tendanya gimana?” Tanyanya kepada santri SMA tadi.

“Udah gak usah. Tidur aja. Kalau didirikan disini bakalan terbang juga tuh tenda” Jawabnya yakin.

Shubuh Menggigil

Menggigil
thehindu.com

Dingin minta ampun membuat tantangan baru, yaitu membangunkan santri. Mau tidak mau mereka harus sholat sebelum matahari terbit.

Adzan dikumandangkan. Shaf dirapikan. Datanglah anak pembina pondokku yang seumuran mahasiswa itu. Badannya yang kekar seakan membenarkan cerita kerasnya kepanduan pesantrennya yang sudah beredar di pesantrenku. Kerennya dia cuma pakai kaos oblong sambil membawa tas mininya, tanpa jaket skebo dan lain-lain.

Bacaan Al-Quran ustadz pada saat itu sedikit terganggu oleh banyaknya suara gesekan antar gigi para makmum. Susah menahannya. Apalagi ketika angin berhembus makin kencang. Membuat kami bergetar parah. Kami hampir tumbang ditiup angin.

Turun Gunung Prusutan

Meluncur
pixabay.com

Karena di puncak sangat dingin dan angin lebih kencang daripada dibawah, maka kami melaksanakan apel dataran perkemahan. Seusai upacara, kami menuruni gunung.

Lebih parah dari mendakinya, dua orang temanku berlomba turun gunung. Pertama, mereka melempar tas mereka ke bawah. kemudian Mereka lari kencang dan menyeleding ke arah rumput yang tengah berair karena embun. Jadilah mereka prusutan beralas rumput. Sungguh gila. Mereka mendarat dengan rolling-rolling mengancam keselamatan.

Pulang

Pulang ke rumah
http://iyotanshari.blogspot.com

Gunung Penanggungan telah kami taklukkan. Kami pulang menggunakan truk seperti keberangkatannya. Hampir seluruh penumpang truk tertidur pulas, pasti kerena letihnya pendakian.

Rem mendadak membuat kami menjalankan hukum Newton 1. Tak peduli, kami tidur lagi.

Sampai sudah di pesantren tercinta. Tapi, ini bukan pesantren kami. Ternyata, ini pesantren SMA yang beda kota dengan pesantren SMA. Benar benar pesantren keren. Dikelilingi sawah.

Kami menginap di pesantren SMA malam itu. Tenda didirikan, karena rugi jika menyewa tenda tanpa menggunakannya. Di malam itu juga kami menikmati hasil kebun santri SMA. kami membakar jagung, memanjat mangga. Pokoknya seru dan kenyang.

Itulah pengalaman mendaki gunung penanggungan penulis bersama dengan kawan-kawan sepondok pesantren.  Jika kalian juga punya pengalaman seperti pengalaman mendaki gunung penanggungan ini, kalian bisa kirim cerita kalian ke [email protected]

Assalamu ‘ala manittaba’al huda.

Tinggalkan komentar