Kode AdSense Anda

Pengalaman Membuat Roti Maryam di Pesantren

Memang banyak kejadian menarik yang saya dapat dari kehidupan di pesantren. Selain karena saya adalah seorang santri, kisah-kisah atau pengalaman yang saya dapat dari kehidupan pesantren itu memang sangat berbekas di ingatan/ sangat berkesan. Membuat siapapun yang teringat kejadian itu menjadi mesam-mesem dan nyengir sendiri.

Kali ini saya sebagai penulis akan menceritakan pengalaman saya selama di pesantren. Yaitu memasak atau membuat roti maryam atau ada yang menyebutnya roti canai/ cane. Untuk selengkapnya bisa kalian baca sampai selesai 🙂

Diawali dari Obrolan

clipart berbicara
ijcnlp2008.org

Biasanya, di pondok pesantren ada tugas khusus untuk siswa yang terpilih. Yaitu tugas untuk mengurus dapur atau membantu pemasak dalam menjalankan tugasnya. Kami biasa menyebut mereka piket dapur.

Karena bantuan merekalah kegiatan (membuat roti maryam) ini terjadi. Bagaimana bisa? karena keakraban piket dapur dengan pemasak membuat pemasak memperhatikan keluhanan/ masukan yang disampaikan piket dapur. Bahkan ada beberapa masalah yang terselesaikan dari hasil diskusi mereka ini. Seperti bagaimana menyikapi kelompok makan yang kecer-kecer ketika makan dan ketika mengambil nasi, sambal terong yang terlalu pedas, nasi goreng yang sangat berminyak, dan lain-lain.

Hal-hal yang ingin kami sampaikan atau kami keluhkan kepada pemasak bukanlah keluhan-keluhan biasa, melainkan keluhan yang benar-benar penting. Dalam penyampaiannya juga harus tepat waktu dan kondisinya, serta jangan mengedepankan nafsu keinginan cari enak doang, atau hal yang tidak diharapkan akan terjadi.

Hingga suatu hari seorang anggota piket dapur mengatakan. Bahwasannya tahun lalu ada kegiatan santri yaitu membuat roti bakpau. Ia menceritakan hasil dari pembuatan roti-roti bakwau waktu itu. Ada roti bakpau yang isi coklat, strawberry, kopi, ada juga yang tak berisi, bahkan ada yang sudah dimakan ketika belum jadi. Pokoknya mantaplah.

Sebenarnya kami hanya menganggap pembicaraan itu hanya percakapan biasa. Ternyata dari obrolan itu, koki memberi tahu kami apa yang ingin kami lakukan lagi. Pembicaraan itu sampai ke telinga ustadz. Tampaknya kegiatan tersebut juga menjadi topik pertemuan rutin untuk ustadz.

Diadakan Kembali

Berbeda dengan kegiatan baru biasanya. Jika biasanya diumumkan dengan cara penyampaian langsung dari para ustadz, kali ini berita akan diadakannya kegiatan seperti dua tahun lalu (masak-masak) tersebar dari obrolan ringan dari santri ke santri. Entah siapa yang pertama kali mendapat informasi itu, tapi kami tahu bahwa bukanlah hal benar menyampaikan sesuatu yang tidak benar adanya.

Setelah hari demi hari terlalui. Diketahuilah bahwasannya berita itu datang dari pemasak. Ia dapat informasi tersebut dari para asatidz yang suka mampir ke dapur. Dari pemasak, disampaikan lagi kepada piket dapur. Jadilah piket dapur sebagai santri terupdate, karena kepada merekalah santri yang pertama kali menerima informasi yang tidak disampaikan para asatidz.

Berita makin tersebar. Kegiatan membuat roti maryam menjadi trending topic di akhir pekan ini. Bahkan ada yang mengatakan waktu tepatnya. Kegiatan itu akan dilaksanakan malam ini. Kali ini seorang santri mendapat jawaban langsung dari salah satu ustadz setelah santri tersebut menanyakan tentang kebenaran kegiatan yang akan dilaksanakan itu.

Kami yang mendengar berita itu sangat berbunga-bunga. Karena kegiatan itu benar-benar ditempatkan di waktu yang tepat. Di malam ahad, tidak ada kegiatan. Kami berharap semoga kegiatan ini benar-benar terlaksana dan menjadi kegiatan yang indah.

Begins

Para santri dikumpulkan. Kami berbaris rapi di math’am/ ruang makan. Kemudian duduk dan menunggu ustadz membuka kegiatan ini. Beberapa santri mulai berbisik-bisik tanda tak sabar lagi.

Ustadz membuka kegiatan seperti biasanya. Kemudian ia menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan malam ini. Sebelumnya ustadz menebak, pasti kalian sudah tahu ! Kali ini kita akan membuat roti maryam. Kami hanya tersenyum dan memperhatikan penjelasan ustadz, tak ingin satu katapun terlewatkan.

Ustadz menjelaskan langkah-langkah pembuatan roti maryam dari awal sampai akhir. Selain menyampaikan langkah-langkahnya, beliau menyampaikan hal-hal yang harus diwaspadai. Seperti, jangan sampai kebanyakan air dalam pembuatan adonan, hati-hati dalam proses penggorengan dan lain-lain Ia juga menyampaikan kepada para santri agar tidak bercanda berlebihan dalam proses pembuatan nantinya.

Setelah pembagian kelompok, kami membuat lingkaran-lingkaran kecil sesuai kelompok yang dibagikan ustadz tadi. Taklama kemudian ada perintah, bagi tiap perwakilan kelompok agar mengambil alat dan bahan yang disediakan.

Awalnya kami ragu untuk memulai pembuatan adonan ini. Kami saling tengok ke kelompok sebelah. Apakah mereka sudah mulai atau belum? Sampai salahsatu ustadz yang memperhatikan kami berkata “Udah mulai, nunggu apa lagi..?”.

Modal nekat dan ingatan tentang langkah yang disampaikan ustadz tadi. Akhirnya kita mulai mencampur tepung terigu dengan air sedikit-sedikit. Hingga semua bahan-bahan tercampur di wadah tersebut.

Awalnya kami mengaduk adonan dengan sendok yang ada. Melihat kelompok lain menggunakan tangan-tangan anggota mereka sebagai pengaduk adonan membuat kami berebutan ingin mengaduk.

Setelah adonan mulai padat, tanda telah tercampur dengan baik. Beberapa anggota lain ingin mencoba untuk mengaduk. Akhirnya semua anggota kebagian tugas mengaduk saat itu. Entah mereka sudah cuci tangan atau belum.

Saatnya pembentukan adonan. Melihat cara yang disampaikan ustadz terlalu rumit, kami berkreasi menggunakan cara-cara edan kami. Ada yang menggunakan balok kayu untuk meratakan adonannya. Entah darimana mereka mendapat kayu itu. Ada yang membanting-banting adonannya. Saya pun nggak tahu apa faedahnya. Ada yang langsung makan adonannya. Awalnya beralasan mencicipi, tapi kok banyak gitu. Ada juga yang membuat cetakan melebihi ukuran wajan. Ada yang diisi coklat. Entah mereka sadar atau nggak bahwa kita sedang buat roti maryam.

Ternyata Dilombakan

Clipart sedang memasak
http://clipartportal.com

“Ada yang untuk ustadznya. Nanti roti maryamnya dinilai. Punya kelompok siapa yang paling mantap”.

Mendengar kalimatnya itu membuatku teringat ketika perlombaan membuat sate saat Idul Adha kemarin. Kami mempersembahkan sate yang menurut kami itulah sate yang mantull sangat. Tapi apalah daya santri yang berbau sangit dan bermuka hitam gara-gara asap pembakaran. Keputusan ustadz tetap tak terbawahkan. Kelompokku kalah. 

Dari situ bisa kuambil pelajaran. Bahwa yang enak itu buat kita aja. Untuk membuatnya saja susah, menang juga belum tentu. Kalau perlu kita kasih yang paling alot aja untuk ustadznya. Astaghfirullah… (tidak untuk ditiru)

Akhirnya kami mengutamakan roti maryam yang untuk dilombakan. Untuk ustadz kami buat yang hampir memenuhi piring. Ditambah dengan susu kental manis coklat yang membuat kami ingin menyambarnya sebelum sampai ke mulut para ustadz. Tapi dilihat dari teksturnya, itu kayaknya setengah mateng. Masih agak empuk-empuk kayak adonannya. Mungkin karena tebalnya cetakan yang kami buat. Gapapa lah

Sakit Perut

Waktu tidur sudah tiba, padahal masih banyak cetakan yang belum digoreng. Akhirnya diperintahkanlah kami untuk istirahat. Adonan yang tersisa dilanjutkan esok hari.

Esok harinya, kami melanjutkan tugas kami yang belum terselesaikan. Melihat proses penggorengan yang tidak butuh banyak tenaga, akhirnya kuputuskan untuk bermain bola dulu. Ditengah bermain bola, seseorang memanggilku. Dia bilang bahwa roti maryam telah siap dinikmati.

Melihat jumlahnya yang banyak. Juga beberapa roti yang gosong tertutup coklat kental manis. Membuatku ingin kabur dengan membawa selembar roti yang paling sempurna menurutku.

Tapi tetaplah kami nggak bisa lari. Karena salah satu anggota kelompokku membuat kesepakatan untuk tidak pergi sebelum semuanya habis. Sepertinya dia yang tukang goreng tadi. Kamu sih..

Akhirnya roti yang kami buat habis. Kami sangat kenyang. Padahal sekarang waktunya sarapan. banyak dari kami yang tidak sarapan pagi itu. Beralasankan kenyang karena makan roti maryam.

Bahkan beberapa santri sudah mengantri di kamar mandi. Katanya perutnya sakit. Ketika ditanya, kok bisa? Mungkin karena ketika yang mengaduk belum cuci tangan, rasanya eneg parah. Waduh!!?

Tinggalkan komentar