Kode AdSense Anda

Pengalaman Indah Nyuci Jeroan Saat Idul ‘Adha di Sintesa

Seorang ulama ternama mengatakan “Hari ‘Ied (‘Idul ‘Adha dan ‘Idul Fitri) disebut ‘Ied karena (artinya kembali) senantiasa kembali setiap tahunnya dengan kebahagiaan baru.

Bahkan Rasulullah SAW telah bersabda tentang adanya 2 hari raya yang ada pada zaman jahiliyyah “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; Idul Fitri dan Idul ‘Adha”.Ā  Apalagi sekolah diliburkan, benar-benar hari yang baik šŸ™‚

Takbir

Takbi kaligrafi Allahu Akbar
behance.net

Salahsatu kenikmatan ‘Idul ‘Adha yang pertama adalah takbir/ bertakbir/ takbiran. Ada yang ikut takbir keliling, ada yang takbir di masjid, ada tugas takbir malam, ada tugas takbir shubuh.

Bagaimana tidak bahagia hari itu. Takbir bertebaran dengan penuh bangga, keberanian, juga senyuman. Apalagi yang tugas takbir dapat jatah jajanan yang banyak sekali. sampai-sampai kami tebar ke grup whats app biar mereka pada datang ikut takbiran di masjid.

Takbir hari itu membuatku ingat saat masa kecil dulu. Berkeliling desa dengan teman se-TPQ sambil bawa obor. Melihat kakak-kakak menyemburkan minyak ke arah obor. Hal itu menjadikan mereka terlihat seperti naga yang ngos-ngosan.

Takbir kali ini memberi pelajaran penting buatku. Membuatku tahu lafadz panjang takbir itu sendiri. Menambah nada-nada takbir yang belum kukuasai. Juga membuatku tahu, ternyata temenku suka selfie sambil bawa microphone. Kalau kuhitung mungkin lebih dari 15 kali dia selfie layar tegak dan tidur. Itu belum videonya.

Makan-makan

Bancaan Slametan
palembang.tribunnews.com

Kami dapat perintah untuk tidak pulang dahulu setelah sholat ‘Ied. Katanya ada jatah makan-makan untuk santri di masjid. Kami juga diperintahkan untuk jadi orang normal ketikaĀ  makan nantinya. Karena kami akan makan bersama masyarakat luar, jadi kami harus tampil elegan, bukannya tampil seperti orang kurang gizi. šŸ™‚

Seusai sholat ‘Ied, kami membentuk lingkaran lebar di masjid. Membantu menghitung hasil infaq jama’ah. Mendengarkan omongan ta’mir berkaitan dengan hasil infaq. Menyampaikan terimakasih kepada jama’ah dan siapapun yang sudah ikut partisipasi. Disambung dengan doa.

Saatnya makan-makan. Ada nasi kuning, ada nasi putih, ada nasi uduk. Ada lauk ayam, ada lauk telor, ada lauk mie, ada lauk tempe. Ada semangka, pisang, dan lain-lain.

Tentu bukan itu yang membuat makan-makan kali ini menjadi nikmat. Yang membuat nikmat adalah makannya yang rame-rame bareng masyarakat setempat.

Masa sudah habis disuruh tambah. Sudah kenyang disuruh makan lagi. Yang lain pada pulang, saya disuruh bungkus dulu. Apa-apaan ini?! Yang harusnya dikenyangkan itu sembelihannya pak… Saya kan santri.

Sembelih dan Nguliti

Kami dapat bagian menyembelih kambing. Proses sembelihan dilakukan dengan selembut mungkin. Ada yang Bagian memegang kaki depan, ada yang bertugas memegang kaki belakang. Ada yang mengangkat badan untuk menidurkannya. Memang berkata-kata tidak sesulit aksinya.

Seperti biasanya, seusai sembelihan, kami menguliti hewan qurban. Untuk kambing digantung terlebih dahulu, agar memudahkan proses pengulitan.

Ditengah asiknya menguliti, ada yang berteriak sedikitĀ  histeris. “Huuuhhh… ” sambil memegang tangannya. Sepertinya terkena goresan pisau.

Kami memperhatikan santri itu. Hingga seorang ustadz bertanya “Kenapa? Berdarah nggak?”

“Nggak tadz..”. Jawabnya santai

“Yaah.. Nggak berdarah..” Katanya penuh kekecewaan yang pastinya itu bercanda.Ā Kami sebagai santri hanya bisa tersenyum dan tertawa memperhatikan ucapan ustadzĀ  tadi.

Bakar-bakar Sate

 

Tentu kurang lengkap apabila ada sembelihan, tapi tidak ada kegiatan bakar-bakar sate, atau biasa disebut nyate. Apalagi pihak pondok membolehkan para santri untuk nyate. Jadilah kami nyate malam itu. Dengan bumbu secukupnya dan modal lapar, akhirnya kami bakar juga daging kambing sewadah besar itu.

Sebenarnya menu makan malam kali ini adalah sate kambing. Tapi, dapur pesantren hanya menyediakan nasi. Sebab mendengar para santriĀ  yang pada ingin nyate.

Karena banyaknya jumlah santri yang ada di pesantren dan mereka juga sedang tidak ada kegiatan, maka para santri sendirilah yang membakar sate untuk dimakan malam itu. Andai saja tidak ada yang bersedia bakar-bakar malam itu, mungkin kami tidak makan malam saat itu.

Walaupun panas bara membuat gerah, walaupun asap hitam membuat kami semakin gelap, tapi tetaplah sate kami agak alot.

“Harusnya direndam air nanas dulu tadi. Biar nggak alot gini” ucap salahsatu santri.

“Tinggal makan aja komen!” Balas yang lain.

Memang daging sate malam itu agak alot. Mungkin butuh waktu 5 menit mengunyah agar daging itu halus, sebelum nantinya melewati kerongkonganku. Tapi tetaplah sate malam itu menjadi penikmat kami malam itu. Bukan karena rasanya, tapi karena kebersamaannya.

Kok yang Piket?

Di pagi yang cerah kami disambut oleh perintah ustadz.

“Ada yang nyuci jeroan” perintahnya kepada santri.

“Yang piket aja ustadz…”Ucap seorang santri.

Tapi kan, tugasnya piket bersih-bersih pondok minggu ini, ucapku dalam hati. Tapi apalah kami ketika ustadz sudah memutuskannya. Dengan banyak tapi-tapi tidak akan membuat penyelesaian, malah membuat masalah baru.

“Yaudah, yang piket aja. Langsung berangkat sekarang. Pinjam tossa disebelah dulu” tambahnya.

Beberapa saat kemudian. Kami sekelompok sudah ada diatas tossa. Walaupun tetap ada teman dari kelompok piket lain yang ikut membantu.

Kami membawa banyak pisau untuk digunakan nantinya. Ketika perjalan, kami semua berdiri di bak tossa. Kami menikmati perjalanan menuju tempat tujuan melewati jalan raya. Sambil mengasah, dengan maksud agar nantinya memudahkan proses pembersihan jeroan.

Awalnya, kami melihat-lihat bangunan dan penduduk yang kami lewati dengan biasa-biasa saja. Tapi sepertinya dengan tingkah dan tampang kami membuat menarik perhatian mereka. Mungkin mereka berfikir, ini seperti sekelompok orang yang suka begal itu mungkin?Ā 

Kami hanya senyum-senyum. Semoga bisa ketahuan kalau kami seorang santri. Ada yang tebar salam. Ada yang tunduk-tunduk kepala. Bahkan seorang teman kami ada menyapa menggunakan bahasa jawa yang berlogat asalnya.

Kami sudah sampai di tempat pembersihan. Tepatnya di area irigasi persawahan. Kami meminta izin terlebih dahulu kepada orang yang menjaga pompa air saat itu. Kami menyampaikan apa yang ingin kami lakukan, yaitu mencuci jeroan.

Setelah mendapat izin, kami langsung masuk ke sungai. Mengeluarkan isi karung (jeroan) dan aromanya sangat bau. Membuat siapapun yang mencium baunya mengeritkan dahi.

Karena ini adalah nyuci jeroan perdanaku, maka kuminta arahan kepada kakak kelas atau teman yang barangkali pernah mencuci jeroan sebelumnya. Ternyata caranya mudah, tinggal dibelah dan dikeluarkan isinya. Mudah untuk mengatakannya.

Tidak mungkin rasanya, jika ada seorang yang mencuci jeroan tanpa mendapati chocolate chips si sembelihan. Begitu juga diriku, banyaknya kotoran yang kulihat. Tapi itu normal. Namanya juga membersihkan saluran pencernaan.

Awalnya kubelah isi lambungnya. Isinya seperti bubur warna hijau dan lumayan bau. Pasti warnanya karena rumput yang dia makan. Mungkin ini bisa jadi pupuk untuk persawahan yang dialiri irigasi ini. Tekstur lambung dalamnya yang agak kasar membuatku teringat salah satu makanan khas indonesia, babat.

Setelah usus dari jeroan itu kukeluarkan, ternyata panjangnya bukan main. Bahkan ujungnya hampir sampai di ujung irigasi. Karena panjang, usus itu kugulung ditanganku. Membuatku ingat masa kecil dahulu ketika kugulung senar layangan.

Seusai membersihkan jeroan, kami pulang dengan melakukan hal yang sama. Tebar salam curi perhatian.

Tinggalkan komentar