Kode AdSense Anda

Juara 2 MIPA Sidoarjo Surabaya and My Answer b-b-b-b-b-b

Sebelum pengalaman ini ditulis, banyak pertimbangan yang dipikirkan penulis. Akhirnya penulis memutuskan untuk menulis pengalaman ini. Silahkan ambil baiknya  dan abaikan buruknya. Semoga bacaan ini bukan bagian dari kesombongan penulis. Semoga ada hikmah yang bisa kalian ambil setelah membaca bacaan ini. Selamat membaca!

Malas Pangkal Unsukses

kucing oren hd
pexels.com

Tentu suatu kebahagiaan ketika kita dikaruniai kemampuan serta banyak kelebihan. Salah satunya yaitu kemampuan untuk tidak tidur di jam pelajaran fisika. Sebenarnya banyak juga sih, jam pelajaran lain yang disaat pelajaran itu berlangsung, ada yang tidur.

Mungkin kalian bertanya-tanya. Itu kenapa kok pada tidur? Kenapa kok gurunya nggak bangunin? Kenapa temennya nggak ngingetin? Sebelum pertanyaan itu dijawab. Kalian harus tahu bahwasannya pondok pesantren tidak identik dengan tidur dimanapun dan  kapanpun. Kenapa kok pondok pesantren? Karena pengalaman yang saya ceritakan ini saat saya masih nyantri dulu.

Jawaban dari pertanyaan tadi bermacam-macam. Pertama, mereka ngantuk atau ingin tidur. Yang ngantuk biasanya karena kecapekan, dan hal itu bisa diselesaikan dengan mudah. Alasan ngantuk yang lain yaitu piket jaga semalam. Adapun yang ingin tidur, itu dikarenakan malas yang ada pada diri pelaku. Kenapa saya bilang pelaku? karena saya juga pernah tidur waktu pelajaran.

Kebanyakan dari pelaku membawa kebiasaan malas itu sejak dulu, dan hal itu membuat mereka tidak paham pembelajaran yang harusnya ia sudah fahami di jenjang yang sudah dilalui. Jadilah ia harus mengejar dan berpacu dengan konsentrasi extra untuk sampai ke pemahaman yang lebih jauh. Tapi tak banyak mau melakukan hal itu.

Kedua, apakah guru sudah membangunkan para santri? Tentu sudah. Guru mana yang ingin muridnya tidak memahami pelajaran yang ia ajarkan? Tapi karena kurangnya adab dan mungkin karena kebebasan HAM yang sudah kelewatan. Membuat hal yang harusnya terlaksanakan menjadi terdiamkan.

Ketiga, apakah teman pelaku sudah ngingetin? Sebagai teman yang sayang dan perhatian terhadap saudaranya tentu sudah ikut membangunkan. Tapi, apalah daya seorang teman ketika hal itu sudah berkali-kali dilakukan. Namun, tetap saja hal itu tak membuahkan hasil. Malah marah yang muncul diantara keduanya.

Sebagaimanapun mereka bersalah, tetaplah pelaku adalah orang yang paling bersalah di kasus ini. Selain tidur, sebenarnya masih banyak kasus dari para siswa yang menunjukkan kurangnya adab. Kerena itu pentingnya adab bagi seorang siswa. Terutama kepada para guru yang mengajarinya.

Simple, Tapi Tak Banyak Yang Mau Melakukannya

Simple lettering hd
Simple Lettering HD, tataotak.com

Sebenarnya hidup ini simple. Bahkan kebanyakan dari manusia di dunia ini mengetahui apa yang harus dilakukan agar impian besar masing-masing tercapai. Kalau ingin liburan semester tepat waktu, ya selesaikan target hafalannya. Kalau ingin badan sehat ya makan teratur dan olahraga. Kalau ingin nilai bagus ya belajar dengan giat dan perhatikan guru ketika pelajaran. Simple.

Di samping mengetahui bahwa sebenarnya hidup ini simple, juga harus ada motivasi yang tertanam dalam di jiwa perorangan. Ada seseorang mengatakan Tidak ada orang gagal yang tidak punya masa depan dan tidak ada orang sukses yang tidak punya masa lalu. Jelaslah bahwa ketika kita merasa gagal atau putus asa tak berdaya, Hendaknya kita tidak berhenti di titik itu. Karena Jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan memilikinya.  Jika kamu tidak mengambil langkah maju, maka kamu selalu berada di tempat yang sama.

Antara pedulikan UN atau Tidak

A confused man
itij.com

Sebelumnya juga ada motivasi dari para guru. Bahwa sekolah islam biasanya berada di posisi rendah pada tingkatan nilai UN persekolah. Kami tidak mau hal itu terulang lagi. Kami juga tau bahwa islam itu A’la(tertinggi) dan tidak Yu’la(di bawah). Jadilah orang yang sadar mau belajar.

Sebenarnya sekolah dan pondok kami berada di kepengurusan yang berbeda. Tapi bukan berarti berbeda kepengurusan, berarti berbeda tujuan. Hanya saja tetap ada perbedaan. Ibarat guru IPA yang kurang suka IPS dan menyarankan siswanya untuk ambil ke jurusan IPA.

Tapi disini, ada salahsatu ustadz pondok memerintahkan untuk fokus pada hafalan Al-Qur’an dan diniyah (pelajaran agama). Karena diniyah untuk akhirat kita. Sedangkan ngurusi UN akan membuat kalian mikir ruwet. Kalian juga toh nggak akan ditanya 1 + 1 di kubur nanti.

Anehnya ada saja yang tersenyum senang memanfaatkan opini seorang ustadz ini. Maksudnya agar tidak perlu berusaha maksimal, tidak perlu mendatangi bimbingan belajar yang disediakan sekolah, dan malas-malasan ketika pelajaran umum.

Tapi kan ustadz.., kami kan nggak membawahi Al-Quran dan diniyah yang ada. Kami kan tetap mau belajar diniyah juga. Kami juga nggak tidur di pelajaran diniyah. Batinku. Tapi apalah daya seorang santri di mata seorang ustadz.

Hanya Manfaatkan Waktu

Hourglass time hd
lifehacker.com

Selagi itu ada baiknya, maka harus kita ambil dan terima dengan sebaik-baik penerimaan. Namun ketika ada keburukan yang nampak, maka abaikan dengan cara terbaik. Tentunya keputusan untuk menerima atau mengabaikan ini harus didasari pada pemahaman yang benar.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, toh semua sudah ada waktunya sendiri. Waktu halaqoh tahfiz ya hafalan atau muraja’ah. Waktu belajar, ya belajar. Waktu makan, ya makan. Waktu tidur, ya tidur. Waktu olahraga, ya sepak bola 🙂

Tapi bagaimana dengan waktu kosong? Sebenarnya kalau perorangan tahu (sebenarnya sudah diberi tahu semua) dan sadar akan banyaknya materi yang akan diujikan di ujian nasional nantinya. Tentu mereka akan nyicil materi demi materi dan mengejar ketertinggalan masing-masing. Tapi memang main flip-bottle lebih seru. Apalagi ada opini ustadz kalau materi UN nggak akan ditanyakan di akhirat nanti.

Jadilah membaca di waktu luang menjadikan nilai ulangan harian IPA naik dan menjadi nilai tertinggi di angkatan. Ternyata membaca berguna. Ternyata belajar nggak sia-sia. Ternyata main flip-bottle nggak akan menaikkan nilai ujian diniyah dan pelajaran umum.

Lomba?

Guru mengakhiri pelajaran fisika kali ini. Pelajaran selesai dan bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, buku kututup dan menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya. Jajan ah… Ketika hampir ku keluar dari kelas, tiba-tiba ustadz memanggil. Memang ia belum keluar dari kelas.

Setelah kupenuhi panggilan itu, ternyata aku didaftarkan lomba. “Lomba? Lomba apa tadz?” Kaget.

“MIPA, matematika IPA. Bisa lah…, Kemarin juga ulangannya bagus” Maksa.

“Itu hoki aja tadz. Padahal saya belajar ya biasa-biasa aja” Ngeles.

“Pokoknya udah tak daftarin. Siap-siap aja. Kalo menang kan lumayan nambah prestasi” Ucapnya.

Pemaksaan yang menguntungkan. Barangkali aja dapet hadiahnya gitu kan lumayan. 🙂

Persiapan

Bingung, panik, dan khawatir bercampur menjadi satu. Apa yang harus aku lakukan. Sebenarnya gak usah panik sih. Cuma tinggal belajar dan mendalami materi yang ada. Daripada waktu terbuang untuk menabrakkan kepala di tembok. Lebih baik kubaca bukuku.

Berbagai macam buku kupinjam dari perpustakaan sekolah. Kubaca selagi ada waktu kosong. Mencoba memahami berbagai macam penyelesaian masalah pada soal yang belum pernah kudapati sebelumnya. Hingga selesailah semua rumus dihafal.

Benar ada keseruan sendiri ketika belajar dan yang lain main. Kadang disamperin baca apa? kok fokus banget? Tapi itu biasa. Kadang juga ditemenin teman yang baca Al-quran. Kadang juga ada temen yang gak mau kalah, ikut belajar juga. Syukur-syukur kalo ada yang nanya tentang materi yang nggak difahami.

Malahan biasanya waktu piket malam kugunakan untuk membaca. Daripada kurang kerjaan tolah-toleh yang nantinya bikin ngantuk. Mending dipake baca. Lumayan bisa faham cara selesaian masalah pada soal yang terkenal agak dalem.

Waktunya Perang

Setelah melewati berbagai macam pembelajaran, latihan dan bimbingan khusus dari para guru, kini waktu persiapan telah habis. Sekarang waktunya menuangkan apa yang telah kupelajari selama ini dalam bentuk jawaban nanti.

Awalnya ku minta izin kepada ustadz yang berkaitan di pondok pesantren. Kemudian berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Dengan membaca buku tulis, ku khawatir lupa rumus ketika perlombaan sudah mulai nanti. Tentunya sambil melihat jalan yang kulewati.

Sesampainya di sekolah, beberapa teman sudah menunggu di sana. Kami berangkat dari sekolah menuju lokasi perlombaan mengendarai mobil yang telah disediakan sekolah.

Perjalanan kami lumayan panjang. membuatku ngantuk ketiduran. Sampailah kami di lokasi perlombaan. Awalnya kami melihat banyak perlombaan yang sedang berlangsung. Ternyata tidak hanya satu lomba. Ada banyak lomba. Adapun lomba MIPA tingkat SMP akan dimulai pada pukul 08:00.

Babak Penyisihan

Sebenarnya banyak yang menyebut perlombaan ini sebagai olimpiade. Peserta Olimpiade MIPA hari itu dikumpulkan. Kami dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yang nantinya satu kelompok itu akan menempati satu ruangan.

Sesampainya aku di ruangan yang dimaksud, ternyata tempat duduk sudah diatur berdasarkan nomor peserta. Tempat duduknya pun diacak lagi. Jadilah teman satu sekolahku bertempat agak jauhan.

Awalnya kami diberi sambutan oleh panitia penyelenggara olimpiade ini. Ia menjelaskan bahwa olimpiade hari ini adalah ronde awal. Kerena nantinya akan ada babak final, bagi 5 orang yang meraih point tertinggi di pengerjaan soal olimpiade hari ini.

Peraturan tentang pengerjaan soal olimpiade kali ini. Peraturannya sederhana, seperti UN waktu SD, nggak jauh beda. Hanya saja penghitungan point persoalnya, yang harus membuat keputusan antara menjawab atau tidak. Jika benar dapat point 4, jika salah dapat point -1. Kalau ada yang bingung dijawab aja. Tau-tau hoki 🙂

Bel berbunyi, tanda olimpiade resmi dimulai. Identitas dan nomor peserta kuisikan ke lembar jawaban. Berlanjut mengerjakan soal yang lumayan tebal, berlembar-lembar. Awalnya ku kerjakan dari soal matematika (bagian awal). Kerena butuh waktu lama untuk mengerjakannya, ku berpindah dan mulai mengerjakan dari bagian IPA (bagian akhir).

Ternyata lumayan meras otak juga nih, soal-soal olimpiade. Akhirnya kumulai ngerjain dari awal aja deh. Kan namanya berjuang itu dari awal, bukan dari akhir. Kalau dari akhir kan nggak normal. Tapi kan, ada namanya strategy dalam mengerjakan soal, salah satunya yaitu mengerjakan yang mudah dulu.

Selesai sudah kukerjakan semua soal, pastinya dari awal. Sebenarnya setiap selesai satu soal langsung kumasukkan ke kolom jawaban. Agar lebih menghemat waktunya. Soalnya yang tertulis di bolak-balik kertas dan lumayan banyak, membuatku agak kesulitan. Alhamdulillah selesai.

Bel berbunyi, tanda waktu telah habis. Mau tidak mau, selesai tidak selesai, kami harus kumpulkan lembar jawaban. Soal yang lumayan mudah membuatku optimis dan berharap masuk ke 5 besar. Semoga aku bisa melanjutkan ke final.

Pengumuman Hasil

Hari-hari berjalan agak berbeda dari hari biasanya. Setelah olimpiade ronde awal itu, membuatku sering ingat dan penasaraan. Apakah aku termasuk dari 5 orang yang akan melanjutkan perjuangan ke final?

Dari jauh kulihat, guru fisika itu mendekat padaku. Sepertinya ada  informasi baru yang akan disampaikan padaku. Memang anak boarding tak seupdate anak boarding. Pastinya mereka yang fullday lebih update, apalagi dengan adanya telepon genggam yang tersedia di dekat mereka.

Rasa berharap dan khawatir bercampur jadi satu. Ternyata aku lolos. Wahh, nggak tahuapa yang harus kulakukan. Aku harus senang atau sedih ya? Kalau senang ya normal, bisa masuk ke final dan berpeluang 60% menjadi juara. Kalau sedih ya boleh juga sih, males menang gitu atau terharu dan berfikir kok aku bisa masuk final, apakah ini adalah karomah yang Allah berikan kepadaku?

Bukan hanya aku yang lolos, melainkan ada kedua temanku dari satu sekolah yang menempati posisi pertama dan kedua. Sedihnya aku di posisi keempat dari lima orang yang memiliki nilai tertinggi, alias yang lolos dan melanjutkan final nantinya.

FinalGraphic Design Chair At laboratory room

 

Tentu dengan belajar lebih semangat dari sebelumnya adalah salah satu usaha untuk memenangkan final. Karena apa yang kuhadapi nantinya pasti akan lebih berbahaya daripada sebelum-sebelumnya. Apalagi aku ada di urutan empat dari lima peserta. Bermodal buku pinjaman dan bimbingan seminggu sekali-dua kali kuberangkat menuju final.

Sesuai waktu yang ditentukan, kuberangkat sambil buka buka buku. Hanya saja, saat ini seorang guru mengantarku dari pondok menuju lokasi perlombaan langsung dengan motor maticnya. Di perjalanan, ku diberi banyak motivasi dan keyakinan agar bisa menang. Semua materi telah jelas ia sampaikan di jauh hari

Sesampainya di sana, ternyata aku datang di waktu yang hampir telat. Pas saat keempat peserta lain memasuki ruangan. Dengan meminta doa kepada guru dan bismillah, kumasuki ruangan final itu. Ruangan yang sangat dingin karena ac.

Didalam ruangan itu terdapat 6 meja besar yang agak berjauhan, plus dengan westafel di bagian kiri mejanya. Di atas meja juga terdapat potongan tempe, sesendok nasi, mentega, tisu, korek dan spirtus plus sumbunya. Mungkin hanya hiasan.

Awalnya penjelasan yang cepat dari panitia itu agak membuatku bingung, alias nggak faham. Mungkin nggak akan beda jauh dari lomba-lomba biasanya. Stay santuy dan jaga hati, pastinya.

Soal dibagikan bersama dengan lembar jawaban. Setelah panitia memberi aba-aba untuk mulai, maka dimulailah babak final itu. Dengan deg-degan dan grogi pastinya, kumulai menganalisa soal satu-persatu.

Ternyata susah gaees… apa yang harus kulakukan. Soal matematika yang rumit dan sangat panjang. Harusnya ada rumus untuk menyelesaikan soal ini. Apalah dayaku hari itu, daripada ku tidur di kedinginan ruangan babak final, lebih baik aku mengerjakan soal panjang dengan cara manual. Hitung satu-persatu.

Benar-benar ku berprasangka buruk saat itu. Ingin ku segera pulang. Ingin ku tunjukkan kepada mereka, bagaimana ketidakberdayaanku saat menghadapi nomor-nomor diatas kertas ini. Benar-benar soal yang sulit dan menyulitkan. Waktu habislah yang kutunggu-tunggu saat itu. Aku ingin balik ke pondok. Aku ingin segera selesai dari perlombaan ini.

Setelah waktu habis, kukumpulkan hasil peras otakku. Kukemasi seluruh coret-coretan dan alat tulisku. Ku bersiap untuk pulang. Aku pantas kalah.

Emang Ada Praktikum?

Benar-benar saat yang kunanti-nanti sejak sepuluh menit setelah kubaca soal tadi. Kini kubebas dari soal penuh nomor dan pangkat serta huruf-huruf di sampingnya yang membingungkan itu.

Setelah keluar ruangan, kuberkumpul dengan teman dan guru untuk mendiskusikan soal-soal tadi. Sayangnya, kami yang kecewa dengan jawaban-jawaban kami malah diberi semangat.

“Ngga papa masih ada praktikum nanti. Sekarang ada waktu buat istirahat, baca-baca dulu bukunya.” Ucap guruku

“Lah praktikum apa? Emang ada praktikum? Kirain dah selesai..”

“Emang kamu ngga dengerin panitianya ngejelasin tadi?” Tambah temanku.

Benar-benar hari yang buruk. Jadi apa aku nanti setelah perlombaan ini? 

Waktu istirahat hampir habis. Bingung dan khawatir mengisi waktu akhir istirahatku. Apa yang harus kulakukan ketika praktikum nanti. Apalagi para peserta tidak diberi informasi tentang materi praktikum.

Pasrah

 

Waktu istirahat habis. Kami kembali ke tempat semula. Panitia memberi penjelasan tentang praktikum di akhir final ini. Katanya praktikum akhir final ini bertemakan uji kandungan pada makanan.

Sedihnya, kenapa aku nggak peka. Kenapa aku nggak berpikir. Kan tadi aku melihat potongan tempe, sesendok nasi dan lain-lain. Kenapa aku nggak berfikir kalau ini praktikum uji kandungan makanan.

Ternyata juga ada sudokumath berkotak-kotak hampir memenuhi kertas itu. Dalam waktu kurang dari satu jam, kami harus menyelesaikan dengan tuntas semua tantangan. Mencari angka yang pas untuk menempati kotak sudoku, sekaligus menguji kandungan zat makanan dan menuliskan hasil dari praktikumnya.

Bukan hanya itu, para petinggi sekolah pengada perlombaan itu hadir untuk menyaksikan dan memperhatikan bagaimana usaha para finalis ini. Mereka tidak hanya satu atau dua, melainkan hampir sepuluh orang. Membuatku agak terganggu, nggak nyaman, malu pastinya kalau salah.

Menit pertama kugunakan untuk mencolekkan mentega di atas kertas buram. Jadilah kertas buram itu transparan. Aku berhasil menguji kandungan mentega. Hore…

Tapi, begitu banyak para petinggi sekolah itu. Mereka berkeliling melihat apa yang kuperbuat di atas meja ini. Hiraukan saja lebih baik. Kumulai melembutkan sedikit nasi, tapi aksiku malah membuat sebagian dari para petinggi itu berkumpul di mejaku.

Malu, kuhentikan saat itu juga. Aku beralih ke sudokumath. Lumayan mudah, tapi sepertinya para finalis lainnya fokus ke praktikum mereka. Tidak ada yang menyentuh kertas sudokumath. Sedangkan aku hanya termenung memperhatikan kertas sudokumath yang sudah terisi itu.

Mungkin karena diamnya aku, membuat salahsatu dari mereka bertanya kepadaku.

“Sudah selesai?”

“Ehh.. Sudah”

“Ini praktikumnya nggak dilanjutin?”

“Eeeh iya.”

Sebenarnya bukan hanya malu yang membuatku tidak berkutik. Tapi karena aku tidak tahu, bagaimana cara menguji zat lain pada makanan itu. Aku tetap diam seribu bahasa. Takpeduli ada peserta lain yang sampai kebakaran lembar jawabannya. Aku tetap diam sampai waktu habis.

Babak final telah usai. Hasil akan diumumkan nanti malam. Kami keluar ruangan dan langsung menghampiri para pendamping lomba kami. Ternyata susah paakk 

“Bisa nggak tadi..?” tanyanya kepadaku

“Cuma bisa senyum”

“Gapapa-gapapa, yang penting sudah usaha maksimal.”

Jadilah kami pulang hari itu dengan rasa yakin kalah. It’s ok, setidaknya kutahu bahwa tantangan yang ada di olimpiade itu sulit. Bukan olimpiade namanya kalau nggak sulit. Jadi kalau nggak mau dapat soal sulit ya jangan ikut olimpiade.

Tapi yang namanya juga hidup. Ada soal gampang, ada soal sulit. Ada menang ada kalah. Ada senang ada sedih. Dan dengan berdiam menghadapi masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu. Tapi tetap mencontek adalah hal yang tidak diperbolehkan.

Juara 2

Hari-hariku setelah perlombaan itu membuatku lebih bersemangat dalam belajar. Karena kutahu bahwa olimpiade yang kuikuti kemarin itu masih lomba kecil-kecilan. Jauh tingkat kesulitannya jika dibandingkan dengan olimpiade tingkat nasional, apalagi internasional.

Dari jauh kulihat dia tersenyum. Guru fisikaku sejak kelas satu. Mendekat kepadaku dengan tangan melambai-lambai perintah untuk mendekat. Awalnya kukira orang yang ada di belakangku. Ternyata akulah yang sedang ia maksud.

Kuhampiri guruku itu. Salim dan salam tak lupa diberikan, ia menepuk pundakku dan tersenyum riang sekali. Sepertinya ada kabar gembira.

“Udah tau belum?”

“Apa pak?”

“Menang wii.. (namaku masih qordhowi waktu itu) Juara dua.. selamat ya…”

“Widih! Masa pak?”

“Dapat amplop, cuman amplopnya masih di mejaku. Ntar tak ambilin. Selamat ya..”

“Oooh iya pak. Makasih juga segala bimbingan dan doanya.”

“Jangan lupa belajar lagi.. Banyak dibaca-baca bukunya”

“Siap pak!”

Bahagia bukan main kala itu. Alhamdulillah, mungkin inilah petunjuk yang Allah berikan kepada salahsatu hambanya ini, yaitu agar selalu bersyukur, bersemangat dalam belajar dan agar aku tahu, bahwasannya ilmu di dunia ini sangatlah banyak. Jangan merasa cukup dengan ilmu yang kumiliki.

Satu pemikiran pada “Juara 2 MIPA Sidoarjo Surabaya and My Answer b-b-b-b-b-b”

Tinggalkan komentar