Kode AdSense Anda

Hari Berbahagia Bersama Keluarga. Malah Nyasar

Benar-benar pagi yang indah. Kicau burung yang bersautan disana-sini. Kabut yang masih tebal membatasi pandangan. Membuat mata yang setengah terpejam menjadi ingin menelusuri indahnya pagi di kota ini. Madiun.

Siapa yang tidak senang berkumpul dengan sanak saudara. Hanya sekali dalam setahun. Berkunjung ke rumah kakek yang penuh sejarah. Berkumpul dan saling mencurahkan kisah-kisah penuh senyum dan tawa. Mereka yang masih kanak kanak pun bermain bersama. Pokoknya berbahagia.

Bersepeda tanpa sepeda?

Two bycycle bike
pexels.com

Datanglah adik sepupu menghampiriku. mengajak bersepeda keliling desa. Tentu suatu hal yang mengecewakan jika ku menolak ajakan itu. Setelah kupikir lagi, ternyata dia juga mengajak mas , dan ada abahku disana yang pastinya meminta masku tuk memenuhi permintaan adik sepupuku tadi.

lengkaplah peserta sepedahan kita pagi itu. Empat Orang ditambah dengan adik kandungku yang paling kecil. Sambil memeriksa kesiapan ban sepeda.. kulihat ternyata sepedanya cuma 2! Trus sepedahan apa coba namanya kala ga pake sepeda?

Aku dan masku jalan..

Perjalanan dimulai!

start image
sccci.co.uk

Melihat mereka saling berkejaran sepertinya sudah menambah kesejukan pagi ini. Yang pasti tetap ada mas yang menemaniku jalan kaki.

“pelan-pelan aja, ntar jatuh..” kata masku pada mereka yang sedang asik berkejaran dengan tawa yang begitulah.

“Mas aku pulang ya…” Ucapnya.

“lah ga jadi keliling desa?” tanyaku.

“Masih jauh..” jawabnya.

Dan mereka berdua pulang..

Ntar lagi juga nyampe!

Suasana pagi mulai pudar. Kabut sudah tak terlihat sejak tadi. Matahari mulai memancarkan sinar terangnya. Orang-orang mulai bermunculan dengan beragam kegiatan pagi mereka. Memperhatikan dua remaja di usia belia yang sedang ngobrol dengan jalan santai tanpa alas kaki.

“Aku pulang” katanya seperti sedang menahan sesuatu.

“ini kan kita mau pulang..” Balasku.

“Emang tau jalannya? ” Tanyanya.

“Paling belokan situ terus kesanaan dikit” Jawabku.

Hingga telah sampai kita di tempat yang kumaksud. ternyata  belum juga kita sampai ke tempat yang kumaksud.

“Trus kemana nih.. Aku balik lewat jalan tadi aja” Tanyanya membuatku agak ragu.

“Mending kita jalan lagi, kayaknya dikit lagi nih sampe” Jawabku.

“Kayaknya…,” Ucapnya sambil berputar arah.

“Mau ngapain emang? kok buru-buru gitu?” Tanyaku yang dari tadi menahan heran.

“E’ek..” Jawabnya yang singkat jelas padat.

Pasti udah deket!

Berapa jalan yang sudah kulewati namun buntu di ujungnya? Berapa orang yang sudah bertanya kepadaku tentang kebingungan yang tidak bisa kusembunyikan ini? Aku hanya teringat kata-kata  abah ketika ku bertanya tentang cara menghafal jalan. “Ya pake logika aja. kalau jalan ke utara, ya kembalinya ke selatan” kalau persegi dimulai dari titik pertama, maka harus diakhiri di titik pertama juga. Pasti udah dekat.

Setelah lama ku berjalan. Setengah jam rasanya kulalui pedesaan ini, dan ternyata masih banyak semak belukar, entah hutan atau kebun luas yang tak terawat di desa ini. dan sudah kujumpai di ujung jalan. Berkali-kali.

Hingga ku memutuskan tuk melalui jalan tadi. Dan kerennya… tadi jalan yang kulalui ini atau itu ya…?

Aku tersesat, nyasar, hilang arah.

Rumahnya mana dek?

Berdasarkan kata-kata motivasi yang pernah kubaca, Bahwasannya dengan diam dan menangis serta putus asa tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Dari situ sepertinya jiwaku terus membisik-bisik diri ini tuk terus berjalan.

“Rumahnya mana dek?” Seru seorang bapak yang sepertinya hendak berangkat ke ladangnya.

“E.., Ini Pak deket sini kok, Ini lagi jalan-jalan” Balasku percaya diri setengah menyesal.

“Kok dari tadi bolak-balik. Atau nyasar to? rumahnya mana? biar diantar sini.. saya juga mau berangkat” katanya menawarkan bantuan.

“Eeeeh..(Dah gede ngerepotin/Gak usah pak) Candimulyo pak.. “jawabku malu.

“Ooohh.. Candimulyo mana? Balaidesa?” Tanyanya mencari kejelasan.

“Eehh.. deket situ pak…”

“Saya anter sampe gapura ya.. saya mau berangkat soalnya”

“Boleh deh pak..”

Kembali keJalan yang Benar

Road Way photography
pexels.com

Sampai di gapura desa… Masih jauh. Tapi kutahu jalan ini. Jalan keluar setelah jalur Surabaya-Ponorogo menuju rumah kakek. Lega rasanya. Bisa kembali ke jalan yang benar. Walaupun malu tak bisa dihindari lagi. Sudah SMP, Kesasar, mau kembali lupa jalan, nyusahin orang, nyeker (tidak pakai alas kaki) lagi… Kurang apa coba.

“Mass….!!” Teriak anak kecil dari jauh yang dibonceng depan.

Ternyata adik sepupuku ditemani Ayahnya naik motor.

“Dari mana aja?” tanya Om yang sepertinya membawa pesan prihatin dari rumah.

“Jauh pokoknya. Tapi gapapa. Gak hilang kok” Jawabku pura-pura ga salah.

Kamipun pulang dengan penuh sambutan syukur dan rasa lega. Dan hari ini tetap hari yang berbahagia pastinya.

Tinggalkan komentar