Membangun Budaya Membaca

Budaya Membaca – Fajar baru saja menyingsing. Kokok ayam jantan bersautan terdengar di mana-mana. Temaram sinar sang surya mulai memancarkan cahaya emasnya. Sedikit demi sedikit cahayanya menggugah kehidupan. Itulah desa Wonokoyo. Desa yang terletak di pegunungan Lumajang Jawa Timur itu memang mengundang selera.  Hingga tidak terasa banyak warga lain yang berkunjung ke sana.

Suasana desa itu begitu asri. Pepohonan khas pegunungan yang tinggi menjulang membuat panas sang surya terasa berkurang. Angin sejuk yang melintasi pepohonan seakan berkejaran menggoyang mereka. Sejuk udara dengan sendirinya tercipta dengan nuansa yang indah menggoda.

Seiring dengan meninggihnya sang surya, aktivitas kehidupan pun berjalan. Para pegawai, petani, pedagang dan juga pelajar memulai kegiatannya di pagi hari itu. Tidak ketinggalan anak-anak  SD Pisang Emas di desa yang terkenal dengan pisangnya itu.

“Selamat pagi anak-anak…..” Ibu Wati memulai pembelajarannya di kelas lima itu dengan riang gembira.

“Pagi Bu….” Anak-anak menjawab dengan serempak.

Ibu Wati diam sesaat.  Beliau hanya berjalan ke sana kemari di tengah-tengah anak-anak. Dipandanginya satu-persatu murid-muridnya yang berjumlah sekitar tiga puluh itu.

“Anak-anak, tahukah kamu….siapakah orang yang paling pintar dan paling mulia di dunia ini …?” Pertanyaan Ibu Wati kepada anak-anak di pagi sebelum pembelajaran dimulai pagi itu.

Anak-anak terdiam. Mereka tidak ada yang menjawab. Masing-masing duduk rapi di kursinya. Mamad, Pairun dan juga Siti sama-sama diam. Bahkan  Bandu, yang selama ini terkenal dengan ceplas-ceplosnya, saat itu hanya terdiam. Mereka semuanya seakan terkunci mulutnya.

“Tidak ada yang tahu….???” Ibu Wati berusaha mengejar jawaban anak-anak.

Sampai sejauh ini, mereka masih bungkam. Dan tidak seorang pun yang mau menjawab pertanyaan Ibu Wati.

“Baiklah anak-anak….” Ibu Wati mengalah.

“Orang pintar dan mulia itu bukan dilahirkan dari seorang ayah dan ibu yang sangat pandai.  Pun pula, orang pintar dan mulia itu bukan berarti orang yang sangat kaya raya. Orang pintar atau pandai itu adalah hasil dari proses belajar. Siapakah yang paling giat belajar, dialah yang akan pandai. Dan salah satu kiatnya agar menjadi orang yang paling pandai adalah dengan membaca…membaca dan membaca…Membudayakan membaca ” Ibu Wati mulai membuka kunci rahasianya dengan semangat.

“Barang siapa yang berani menanggung lelahnya belajar di masa kanak-kanak, maka kelak dia akan menjadi orang yang mulia di muka bumi ini. Begitu juga sebaliknya……..Dan itu dengan membaca…budayakan membaca” Ibu Wati menguatkan argumennya.

Anak-anak dengan serius memahami kata-kata mutiara Ibu gurunya itu.

“Mengapa harus membaca Bu…? Bagaimana dengan menulis…? Karena menurut Bapak saya, membaca dan menulis itu masih saudara kandung….” Kali ini Bandu bercuap-cuap dengan semangatnya.

Anak-anak tertawa serentak.

“Memangnya siapa bapak ibunya…?” Celetuk salah satu siswa yang berada paling pojok.

Suasana kelas pun ramai. Semua tertawa karena pembicaraan Bandu itu. Bahkan Ibu guru yang berjilbab itu juga ikut tersenyum, walau hanya sebatas di bibir saja.

“Begini Bandu, Ibu akan tunjukkan kepadamu…Bagaimana tingkatan-tingkatan seseorang dalam mengetahui suatu perkara…” Ibu Wati berkata sesaat setelah menguasai diri agar tidak tersenyum lagi.

“Pertama, seseorang itu dilahirkan dalam kondisi buta aksara, tidak ada pengetahuannya sama sekali. Itulah kita saat masih bayi dulu. Bagaimana agar kita menjadi tahu ? Maka jawabannya adalah dengan budaya membaca atau mendapatkan informasi dari orang lain. Sedangkan informasi dari orang lain itu sangat terbatas. Makanya seseorang itu perlu mengembangkan pengetahuannya dengan membaca. Setelah informasi ini sampai kepada kita, maka kita akan memahami apa yang sebelumnya belum dipahami itu. Ini adalah tingkatan pertama, yaitu seseorang yang ingin menambah pengetahuannya dengan mencari informasi melalui membaca. Inilah pentingnya membaca. inilah manfaat membaca. Baik membaca buku, majalah, informasi dari internet, koran dan lain sebagainya yang sesuai dengan tuntutan zaman dan kehidupan.…” Paparnya panjang lebar.

“Ada yang ditanyakan…? Lanjutnya dengan suara datar.

“Faham ya….?” Lanjutnya

Anak-anak terdiam. Mereka seakan terpesona dengan materi yang disampaikan oleh Ibu Gurunya yang sudah cukup senior itu.

“Lalu, bagaimana dengan menulis Bu…?” Siti yang semakin penasaran.

Ibu muda yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu mendekatinya. Dia tatap sebentar gadis cantik yang cukup pandai itu.

“Sebelum Ibu menjawab tentang menulis, apakah ada yang tahu….mana yang lebih hebat antara menulis dan membaca…???” Ibu Wati sekali lagi mengajukan pertanyaan.

Anak-anak sekali lagi masih diam. Semua seakan ingin segera mendapatkan jawaban dari Ibu gurunya itu.

“Anak-anakku semua ….” Ibu Wati melanjutkan. “Ketahuilah bahwa kita semua ini berada di tingkatan membaca. Ayo kita tingkatkan agar sampai pada tahapan budaya membaca. Kita sekarang ini berada di posisi yang berusaha mengejar ketertinggalan informasi. Kita ini jauh tertinggal oleh perkembangan informasi. Kita lihat sekarang, di saat negara lain sudah mempunyai kesadaran yang cukup tinggi untuk membaca, kita saat ini masih malah sibuk dengan berbagai kegiatan yang belum jelas manfaatnya. Otak kita lebih banyak nganggurnya dari pada digunakan. Sedangkan mereka, orang-orang luar negeri itu sudah jauh meninggalkan kita…..” Ibu Wati dengan mimik serius seakan mau menumpahkan air matanya.

“Kita lihat sekarang….” Lanjutnya dengan bahasa yang sangat lembut.

“Negara-negara maju, di sana itu, sudah bukan zamannya lagi ke sana kemari dengan menenteng HP. Mereka semua justru menenteng buku. Di perjalanan kereta api, mereka membaca buku. Di halte bus, mereka membaca buku. Antri di bank, mereka juga membaca buku. Bahkan di toilet pun, mereka juga membaca buku. Pendek kata, tidak ada waktu tanpa buku. Bandingkan dengan masyarakat kita yang masih suka pamer HP. Ke pasar menenteng HP. Ke  mall, pastilah menenteng HP. Ke lapangan pun, menenteng HP. Bahkan di dalam perjalanan di bus, kereta api, bahkan di dalam pesawat pun, selalu menenteng HP. Ironis bukan..?? Yang lebih gawat lagi nih, negera kita saat ini justru sebagai pasar terbesar dunia dalam penggunaan HP…” Ibu Wati mengupas keterangannya panjang lebar.

Anak-anak seperti terhipnotis. Mereka tidak menyangka jika menenteng HP itu ternyata budaya yang seharusnya sudah kita singkirkan.

“Karena itu anak-anakku. Mulai sekarang, mulai dari diri sendiri, marilah kita budayakan membaca. Membaca adalah jendela informasi dan ilmu pengetahuan. Dan orang yang mengetahui tentang informasi, dialah yang akan menguasai dunia ini….” Lanjutnya serius.

Suasana begitu hening….

“Ada yang ingin ditanyakan…???” Ibu Wati serius sebelum menyudahi pembelajaran di pagi itu. Di mana pembelajaran karakter ini hanya sekitar 30 menit setiap awal pembelajaran. Berikutnya adalah pembelajaran bidang studi dan lain-lainnya.

“Bu….selama ini, kami semua begitu malas untuk membaca…. Bagaimana kiatnya agar kami semua rajin membaca….??” Farida bertanya.

Ibu Wati mendekati anak itu. Gadis cantik dengan jilbabnya itu ditatapnya dengan lembut.

“Begini Farida. Orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi, biasanya di dalam dadanya selalu ada semangat. Semangat untuk berjuang, semangat untuk maju, dan semangat untuk mengubah dirinya dari yang asalnya biasa-biasa saja, agar menjadi pantas untuk mencapai cita-cita itu. Dan proses itu dilalui dengan membaca….Sekali lagi, budayakan membaca…” Jawabnya dengan tangkas.

“Jadi, kembangkanlah dirimu, kecerdasanmu, optimismu dan juga semangat serta daya juang kamu. Kemudian raihlah cita-citamu itu dengan jalan membaca, kemudian berkarya dan jangan lupa selalu berdoa……” Jawabnya dengan serius.

Anak-anak diam. Semua seakan terperangah dengan penjelasan Ibu gurunya itu.

“Sekali lagi Ibu sampaikan, bahwa membaca itu adalah sarana untuk menambah pengetahuan. Di mana dengan pengetahuan inilah, nantinya kamu dapat memantaskan dirimu agar sesuai dengan cita-cita yang kamu inginkan….”

“Karena itu anak-anak, mulai saat ini, Ibu usahakan agar di awal pembelajaran yang kita lakukan, harus ada jam khusus untuk membaca. Entah itu 10 menit, 15 menit atau berapa pun….” Ibu Wati mulai membangun budaya membaca dengan  memberinya waktu khusus kepada anak-anak untuk membaca.

“Ibu….bagaimana dengan kelas yang lain..???” Irma menyelah.

“Ya…ini nanti akan saya diskusikan dengan Bapak kepala sekolah. Harapan saya nantinya anak-anak, agar kamu semua, di awal pembelajaran itu ada waktu khusus untuk membaca. Itu dulu. Yang lainnya, nanti kita pikirkan…”Imbuhnya dengan lembut.

“Thok…thok…thok…” Suara ketukan pintu kelas mengagetkan konsentrasi anak-anak yang sedang belajar dan diskusi dengan Ibu Wati itu.

Dengan serta merta Ibu Wati yang saat itu sedang berdiri di depan anak-anak itu segera menuju ke arah pintu. Sedetik kemudian, Beliau sudah membukanya.

“Oh…Bapak kepala sekolah…” Ibu Wati sepontan menyapa Bapak kepala sekolah.

“Silahkan Pak……” Ibu Wati mempersilahkan Bapak kepala sekolah agar masuk ke dalam kelas.

“Di sini saja Ibu Wati….”Bapak kepala sekolah menjawab dengan sopan.

“Hari ini saya memang mengkhususkan diri untuk mengetahui lebih jauh, bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan oleh masing-masing guru. Saya sudah agak lama berdiri di luar pintu sana. Tadi saya juga mendengar dengan jelas, Ibu sedang membicarakan ‘membaca’ dengan anak-anak. Kayaknya bagus sekali Bu….?” Bapak kepala berterus terang menghargai gurunya itu.

“Bagaimana tadi Bu…” Bapak kepala sekolah penasaran.

Ibu Wati tersipu malu.

“Sebenarnya ini sudah lama Pak…. Kami hanya ingin agar anak-anak mau membaca di awal pembelajaran. Itu saja….” Ibu Wati mulai membuka temannya hari itu.

“Maksudnya..?” Bapak kepala sekolah masih belum mengerti.

“Begini Pak. Saat pagi hari, sekitar 10 atau 15 menit, kami ingin agar anak-anak mau membaca. Bukunya apa saja. Yang penting mereka mau membaca dulu. Itu saja. Maksud saya, dengan membaca itu, biar mereka mempunyai kebiasaan yang baik dengan membaca buku. Saya khawatir, kalau hal ini tidak kita mulai dari sekarang, kecintaan anak-anak kita terhadap buku akan tergerus oleh HP…..” Ibu Wati menunjukkan resepnya.

“Betul juga ya Bu….” Bapak kepala sekolah mulai tahu arah pembicaraan Ibu Wati.

Suasana hening sesaat.  Baik kepala sekolah atau guru itu sama-sama diam.

“Begini saja Bu. Besok kita rapat bersama. Kayaknya ide Ibu Wati itu sangat bagus kalau kita terapkan untuk semua kelas di sekolah kita ini. Kita bangun budaya membaca anak-anak dengan menerapkan 10 – 15 menit di awal pembelajaran. Itu sangat baik Bu….” Bapak kepala sekolah dengan bangganya menyambut ide Guru senior itu.

“Siap Pak…” Ibu Wati menjawab dengan semangat.

“Saya permisi dulu….” Bapak kepala sekolah minta izin kepada Ibu guru yang mempunyai banyak pengalaman itu.

Sedetik kemudian, Bapak kepala sekolah sudah meninggalkan pertemuan yang memang sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah untuk mengevaluasi setiap gurunya itu.

Ibu guru lalu masuk kembali ke  dalam kelasnya.

“Mohon maaf ya anak-anak. Itu tadi Bapak kepala sekolah yang kebetulan memang sengaja melihat proses belajar mengajar kita…..” Ibu Wati menyampaikan ke anak-anak.

“Memangnya ada apa Bu…..” Ratna tidak sabar ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan.

Ibu Wati tidak ingin anak-anak beralih kepada masalah kedatangan kepala sekolah, namun Beliau tetap menginginkan agar anak-anak fokus kepada materi pagi ini.

“Ya…masalah membaca itu tadi. Bagaimana agar kita semua mulai saat ini mau membaca. Membaca buku, membaca majalah atau apa saja. Utamanya, kita mau membaca alam. Ini tidak lain, agar kita semua menjadi orang yang paling mengerti tentang hidup….” Lanjut Ibu Wati dengan tegas.

“Bagaimana anak-anak, apakah kita siap membudayakan membaca sebagai salah satu budaya kita ?” Tantang Ibu Wati kepada mereka serius.

“Siapa takut…” Nur Samsi menjawab dengan bangganya.

“Baik kalau begitu, silahkan ambil buku di perpustakaan kelas. Lalu kita membaca bersama-sama. Waktu kita hari ini hanya 10 menit, karena sudah terpotong pembicaraan kita di pagi ini……” Ibu Wati memberikan komando kepada murid-muridnya itu.

Sesaat kemudian anak-anak itu mulai membaca.   Ada yang membaca buku cerita, buku komik, buku pelajaran dan tidak sedikit yang hanya membolak-balik halaman-halaman buku mereka. “Semoga ini menjadi awal manfaat budaya membaca yang baik…” Celetuknya dalam hati.

“Wajarlah…masih di awal….” Ibu Wati membatin saat melihat anak-anaknya seperti itu.

Begitu juga dengan Ibu Wati. Beliau juga membaca sambil tetap mengawasi siapa saja yang sungguh-sungguh membaca. Di dalam hatinya, nanti akan ada gilirannya untuk menerangkan tentang isi suatu buku yang sudah dibacanya di hadapan teman-temannya.

Ibu Guru itu tersenyum sendiri dalam hatinya. Dia hari ini merasakan sebagai seorang guru yang ingin mengubah negeri ini agar menjadi negeri yang patut diperhitungkan oleh negara lain karena manfaat dan pentingnya budaya membaca.

Baca juga : √25+ Kata Kata Hijrah Motivasi & Renungan Diri [Bergambar]

Tinggalkan komentar