Kode AdSense Anda

Akibat Kartu Remi Masuk Pesantren

Tentu hal yang membosankan ketika terkurung di lingkungan pondok yang luasnya tidak lebih dari setengah lapangan sepak bola. Termasuk ukuran yang kecil jika dibandingkan dengan pondok pesantren lainnya. Sampai kadang membuatku heran, kenapa orang tuaku menginginkan diriku untuk belajar di tempat ini. Tempat yang berbeda dengan pesantren-pesantren yang ada di nusantara. Malah kalau ku mau jujur, tempat ini lebih mirip dengan hotel. Karena bangunannya yang lumayan tinggi, yaitu 4 lantai dan tata ruangnya yang sangat modern juga kebersihan yang diatas rata-rata pondok pesantren yang pernah kukunjungi. Hingga kutemukan jawabannya. Belum tentu anehnya bangunan menandakan kurangnya ilmu di tempat tersebut.

 

Kami menyebut diri kami terkurung karena memang pagar besi pondok yang kokoh adalah pembatas antara lingkungan pondok dan zona ‘harus punya alasan’. Ditambah lagi dengan adanya sanksi bagi santri yang ketahuan pastinya, dan tak punya alasan. Apalagi membawa “hasil”. Kebanyakan para pelaku hal tersebut lebih mudah dikenal dengan hilangnya rambut dari tempat biasanya.

 

Dari banyaknya peraturan yang wajib diketahui para santri, sedikitnya kita bisa mengambil 2 kesimpulan. Pertama, jangan melanggar. Kedua, kalaupun ingin melanggar jangan ketahuan para guru. Sebenarnya hanya ada satu kesimpulan. Kenapa bertambah satu, karena itulah yang guru sampaikan kepada muridnya. Tapi, tetaplah hukuman untuk orang-orang bersalah.

Stress….

anak stres sedih
pexels.com

“Ada yang mau disampaikan? Atau gak setuju? Mau protes?” tanya seorang guru setelah menyampaikan hasil rapat rutin minggu ini. Ini merupakan perpanjangan dari tahfiz. Memang, kebanyakan dari kita berpikir bahwa waktu yang dibutuhkan untuk tahfiz lebih dari cukup untuk mencapai target yang telah ditetapkan pondok. Beberapa dari mereka pasrah dan berprasangka baik, beberapa mulai berbisik tanda resah dengan hasil rapat.

 

Satu jam setiap setelah sholat fardhu adalah waktu wajib mengaji kami. Kadang kami merasa sedikit letih karena padatnya kegiatan kami. Bahkan pernah waktu mengaji  ku gunakan untuk tidur, tanpa sengaja dan tak terasa mata kami sudah terpejam. Hingga 0-1 menit kemudian datanglah pena yang melesat dengan kecepatan tinggi menghantam apa saja yang dituju. Bukan ketika kita telah bangun dari mimpi sedetik maka telah selesai perkara. Kita harus berdiri sampai diperintahkan tuk duduk kembali. Biasanya sampai habis waktunya.

 

“Stress ustadz…” Teriak teman sekelasku dari belakang.

“Ha? Stress? Justru Kebiasaan baik yang bikin antum stress itu harus dibiasakan. Nah nanti jadilah stress hal yang biasa. Insya Allah stress karena kebaikan yang antum lakukan membawa kebaikan untuk antum sendiri bahkan orang lain. Jadi begitu…” Jawabnya sambil nyengir.

 

Jadilah santri pada ikutan nyengir.

Coba-coba

Bermain kartu
itsalwaysautumn.com

Waktu Istirahat tiba. Ada yang berangkat menuju kantin, ada yang asik dengan buku catatannya, dan ada yang mulai membuat lingkaran di belakang kelas. Heran dan penasaran membuatku mendatangi lingkaran itu. Ternyata meraka sedang main kartu, atau lebih dikenal dengan Remi.

 

Awalnya hanya lihat-lihat. Kemudian tertarik dan mulai belajar cara mainnya. Hingga hampir setiap hari aktif di waktu istirahatnya kami gunakan untuk bermain Remi. Hingga satu angkatan mendapat status ‘telah bermain Remi’. 

 

Dengan bergabungnya kami untuk bermain Remi menandakan kita telah setuju dan menyepakati hasil diskusi dan ikhtiar yang dilakukan.Yaitu agar pelanggaran ini tidak sampai ke pihak pondok maka kita hanya bermain di kelas dan waktu istirahat saja. Karena bisa saja ketika kita main di waktu pelajaran, guru pelajaran akan melapor ke pihak pondok, yang pastinya akan lebih berat dari hukuman biasanya.

Pelanggar Kesepakatan

jari kelingking
rawpixel.com

Hari dimulai seperti biasa. Diawali dengan sholat tahajud. Ketika hendak mengambil wudhu, kulihat 2 temanku sedang bertelanjang dada di kamar mandi dengan seorang duduk menghadap cermin, dan seorang berdiri membawa mesin cukur. Sontan membuat kaget orang yang ada di kamar mandi saat itu. Membuat kami bertanya-tanya. Tapi tidak dari mereka berdua menjawab pertanyaan kami. Kami hanya mengira pasti itu perintah ustaz akibat pelanggaran yang telah mereka berdua lakukan.

 

Berita mulai tersebar di pondok. dari kelas 7 sampai kelas 9. Seorang adik kelas yang menemaninya piket jaga semalam merekam semua kejadian yang terjadi. Mulai dari ungkapan bosan seorang dari temanku, dan berujung bermain Remi, hingga datangnya seorang pengasuh untuk memastikan berjalannya kewajiban piket jaga malam. Pengasuh tersebut langsung merampas semua kartu dan memberi sanksi dengan bentuk cukur gundul sebelum azan shubuh berkumandang. Menurut ungkapan adik kelas yang sekelompok piket dengan kedua temanku tadi, ternyata tidak hanya semalam ia bermain Remi. Melainkan sudah berkali-kali.

Kembali ke Jalan yang Benar

Road Way photography
pexels.com

Ustaz biasa memberi sedikit ceramah seusai sholat wajib kepada para santri. Namun, ceramah kali ini sungguh menyentuh. Beliau mengatakan pada kami agar selalu ingat dan sadar bahwasannya kedatangan kita ke pondok ini bukan semata-mata hanya untuk bermain-main atau pindah tidur. Melainkan suatu perjuangan menjadi orang yang lebih baik dan mendapatkan Ridho Nya. Beliau juga mengatakan bahwasannya surga itu tidak diraih dengan usaha yang biasa-biasa saja. melainkan dengan usaha yang benar-benar usaha.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk membuang semua kartu Remi yang tersisa di pondok maupun di kelas. Kami yang sudah pernah bermain namun tidak mendapat sanksi pun bersyukur. Karena, biasanya pengasuh mencari pelaku suatu pelanggaran sampai akar-akarnya. Bahkan mengetahui pelanggaran dan tidak melaporkan ke pengasuh adalah suatu pelanggaran berat. Usailah kasus Remi hari itu dengan izin Allah SWT melalui tangan pengasuh, juga karena rasa sadar akan tujuan besar masing-masing dari kita.

Tinggalkan komentar